Arsitek Islam Nusantara, Antara Makna dan Interpretasi

Institute of Southeast Asean Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga, bekerja sama dengan IKA SUKA (Ikatan Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar seminar Arsitektur Islam Nusantara, Sabtu (06/05/2017) kemarin.

Bertempat di Interactive Center (IC) FISHUM UIN Sunan Kalijaga lantai 1, kegiatan ini mengambil tema Reviving Islamic Diversity of Indonesian Archipelago in Architecture (Menghidupkan kembali Keragaman Islam Nusantara dan Arsitektur). Sekjen IKA SUKA, Dr. Abdur Rozaki, S. Ag., M. Si, menyampaikan bahwa seminar kali ini merupakan serangkaian dari 3 kegiatan besar IKA SUKA. “Seminar ini rangkaian dari 3 kegiatan besar IKA SUKA. Pertama, festival seni dan budaya. Kedua, seminar Arsitektur islam Nusantara (AIN), dan yang ketiga ialah pelantikan dan Raker pengurus IKA SUKA pusat dan cabang,” terang Rozaki dalam sambutannya. Ia juga berharap, nanti setelah terselenggaranya seminar kali ini, kampus II UIN Sunan Kalijaga yang akan dibangun benar-benar mencerminkan tradisi ke Sunan Kalijagaan sebagai figure yang menginspirasi. “Semoga kampus dua nanti benar-benar mencerminkan tradisi ke Sunan Kalijagaan,” harapnya.

Ahmad Suaedy, M.Hum sebagai pemateri menjelaskan perihal AIN dalam menghadapi tantangan globalisasi. Untuk itulah AIN harus memiliki identitas.

“Salah satu respon terhadap globalisasi adalah menguatnya identita. Termasuk di dalamnya identitas politik. Identitas politik bisa berupa ekspresi lokal tetapi juga bisa bersifat universal,” tegas Peneliti Islam Asia Tenggara itu.

Sementara Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga, Dr. Phil. Sahirom Syamsuddin, M.A menjelaskan bahwa AIN harus memiliki makna dan interpretasi. Mengambil istilahnya Janis Taurens dalam Meaning and Context ini the Language of Architecture, bahwa sejatinya sabuah bangunan tidaklah terlepas dari ekspresi seseorang.

“Seperti yang terdapat pada bangunan Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibangun sekitar tahun 1480 oleh Sunan Gunung Djati bersama Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Bangunan ini menginterpretasikan bahwa ada makna historis mengenai dakwah yang dilakukan oleh para wali. Di mana dalam pengembangan makna yang saat ini terjadi, berkaitan dengan sikap terbuka dan toleransi pada keberagaman serta pemahaman agama yang kontekstualis,” papar Sahiron.

Selain Sahirom Suaedy, juga terlihat hadir Yulianto P. Prihatmaji, S.T.M.T (Dosen arsitektur UII Yogyakarta) serta  Fauzi Rahman (Praktisi Arsitektur Islam Nusantara) sebagai pemateri serta Abd. Aziz Faiz, S.Sos., M.Hum sebagai moderator.

*Tulisan ini telah diterbitkan di http://nusantaranews.co/arsitek-islam-nusantara-antara-makna-dan-interpretasi/