Mahasiswa Asia Tenggara bertemu dalam Southeast Asian Student Forum

 

Untuk membangun pemahaman terhadap perbedaan agama dan budaya di kalangan mahasiswa Asia Tenggara, Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan Southeast Asian Student Forum untuk pertama kalinya pada Senin, 8 Mei 2017. Dalam forum yang mengangkat tema “Enriching the understanding, bridging the differences” tersebut ISAIs bekerjasama dengan Department of Malay Studies National University of Singapore (NUS). Selain mahasiswa NUS, hadir pula mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang berasal dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Forum yang rencananya akan menjadi agenda rutin ISAIs tersebut mendapat sambutan baik dari Wakil Rektor III Dr. Waryono Abdul Ghafur yang pagi itu membuka kegiatan  Southeast Asian Student Forum. Wakil rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama tersebut mengatakan bahwa kegiatan semacam ini penting sebagai upaya mempromosikan Islam moderat yang khas di wilayah Asia Tenggara sebagaimana Islam Nusantara yang kini banyak dikaji di Indonesia.

Selama kegiatan Southeast Asian Student Forum peserta saling berbagi cerita pengalaman tentang kehidupan muslim di negara masing-masing yang unik dan berkesan. Berbagai tantangan kehidupan beragama juga muncul dalam sesi diskusi, sehingga upaya untuk berdialog sangat penting untuk menjembatani perbedaan.

Selain berbagi pengalaman, peserta juga berdiskusi tentang peluang dan tantangan kajian Islam di Asia Tenggara. Diskusi tersebut menghadirkan dua pembicara yaitu Dr. Azhar Ibrahim dari Department of Malay Studies National University of Singapore (NUS) dan Dr. Najib Kailani dari Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Dalam diskusi tersebut Azhar banyak mengungkap berbagai persoalan studi Islam di antaranya ketimpangan antara kajian Islam dengan kajian ilmu sosial dan masih minimnya kajian Islam yang menggali Islam Melayu. Lebih lanjut Najib Kailani menyoroti kecenderungan gerakan Islam yang bertolak dari Prosperity Theology yang berorientasi pasar dan mendorong masyarakat untuk jadi kaya dengan bungkus agama.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *