Menyuarakan Peran Perempuan dalam Dialog Antar Agama: Sebuah Catatan dari Nairobi

Wakil Direktur Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga, Wiwin Siti Aminah Rohmawati, MA menjadi pembicara pada International Conference on Religion and its Contribution to Conflict and Peace Building di Nairobi Kenya pada 23-24 Mei 2018. Dia memiliki privilege untuk menghadiri Konferensi Tahunan Tangaza ke-2 tentang Perdamaian dan Keamanan Berkelanjutan di Afrika (TACSPA 2). Ini adalah konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Tangaza University College (TUC), universitas Katolik yang bereputasi tinggi dengan jaringan internasional dan mahasiswa yang berasal dari lima puluh negara di seluruh Afrika dan sekitarnya. Konferensi itu sendiri merupakan peristiwa besar yang berhasil dicapai melalui kerja sama yang efektif dengan lembaga-lembaga nasional dan internasional, termasuk Umma University, Jesuit Hakimani Centre, Justice Africa, Malaika Foundation, CJPC, Civil Peace Service dan Children’s Peace Initiative Kenya.

Konferensi ini dihadiri tidak hanya oleh akademisi dan peneliti, tetapi juga para pemimpin agama serta aktivis dialog antaragama dan peacebuilding. Ada 250-300 peserta dari latar belakang agama, etnis, dan kebangsaan yang berbeda seperti Nigeria, Kongo, Ethiopia, Prancis, Jerman, dan Indonesia. Topik konferensi tahun ini adalah “Agama dan Kontribusinya untuk Pembangunan Konflik dan Perdamaian” yang dibagi menjadi empat sub-tema meliputi: keterlibatan antaragama untuk perdamaian dan keamanan; politisasi agama; mendekodekan kekerasan agama dan ekstremisme; agama sebagai kekuatan untuk perdamaian dan rekonsiliasi. Semua ini adalah topik yang menjadi trend dan relevan baik untuk konteks regional dan global. Banyak isu dan ide penting diangkat selama konferensi.

Berdasarkan pengalaman panjangnya di Indonesia, perempuan yang sedang menempuh studi doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga tersebut mempresentasikan makalah berjudul Women’s Role in Interreligious Dialogue: A Comparative Study between Indonesia and Kenya”. Baik Indonesia dan Kenya adalah negara yang sangat beragam, terutama dalam hal agama dan etnis. Meskipun secara konstitusional, Kenya adalah negara sekuler – tidak seperti Indonesia, yang biasanya tidak diidentifikasi sebagai negara sekuler atau teokratis – agama adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Selain itu sistem patriarki masih kuat di kedua negara, dimana perempuan didominasi kelompok atau subaltern dalam istilah yang digunakan oleh Spivak yang tunduk pada subordinasi politik, ekonomi, dan budaya, termasuk dalam kehidupan beragama. Marginalisasi dan keterwakilan perempuan adalah salah satu masalah utama yang segera ditemukan di kedua negara. Tidak mengherankan dalam banyak kasus, minat, peran, dan kontribusi perempuan tidak terlihat. Suara mereka tidak terdengar, termasuk dalam dialog antar agama.

Terhadap konteks ini, Wiwin berusaha menyuarakan peran dan kontribusi Perempuan yang tidak dikenal dalam dialog antar agama. Pada kenyataannya, baik di Indonesia dan Kenya ada inisiatif kuat dari organisasi masyarakat sipil dan lembaga keagamaan dimana perempuan memainkan peran aktif dalam dialog antar-agama, terutama di tingkat akar rumput. Dipercepat oleh perkembangan teknologi telekomunikasi, internet, dan kemajuan lainnya di dunia global, gerakan-gerakan perempuan yang penting tumbuh dan berkembang secara signifikan. Selain itu, kebijakan pengarusutamaan gender yang diamanatkan oleh undang-undang di kedua negara telah membuka pintu bagi terciptanya kesetaraan gender di masa depan. perempuan harus memanfaatkan kesempatan mereka untuk membuat suara mereka didengar. Ada kesamaan yang mencolok pada aspek-aspek ini di kedua negara. Namun, tidak seperti di Indonesia dimana pemerintah telah membentuk inisiatif panjang pada dialog antaragama terutama yang difasilitasi oleh Kementerian Agama yaitu Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), inisiatif tersebut tidak ada di Kenya.

Dalam konteks keterlibatan perempuan dalam dialog antaragama, Kenya telah membuat pencapaian yang sangat signifikan. Kenya Women of Faith Network (KWFN) didirikan pada 2007 di bawah The Interreligious Councils of Kenya (IRCK) sebagai organisasi payungnya. Kenya juga memiliki Forum Ufungamano dengan lebih dari 500 anggota, lebih dari 35 persen di antaranya adalah perempuan. Peran dan suara perempuan Kenya karenanya terwakili secara berarti. Pada aspek ini, Indonesia harus belajar dari Kenya. Karena ketika perempuan terlibat dalam dialog antar agama, maka tujuan menciptakan dunia yang damai bagi semua pihak dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia dan Kenya akan semakin nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *