Diskusi Publik: Memahami Ekstrimisme Muslim di Asia Tenggara

Dewasa ini perkembangan gerakan-gerakan ekstremis semakin mengkhawatirkan. Di kawasan regional Asia Tenggara, pergerakan kelompok-kelompok tersebut semakin massif dan terstruktur sehingga semakin sulit dideteksi oleh aparat berwenang. Tak hanya sulit dideteksi, bahkan kini telah terdapat kelompok ekstremis yang memiliki keterkaitan atau berbaiat kepada organisasi teroris global seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di bawah Abu Bakar Al-Baghdadi, sebut saja Abu Sayyaf yang berbasis di Filipina selatan sebagai contoh nyata. Berpijak pada fenomena tersebut dan tantangan untuk menghadapinya, pada hari Jum’at tanggal 4 November 2016, Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan diskusi publik dengan tema Understanding Muslim Extremism in Southeast Asia. Narasumber dalam agenda diskusi publik ini adalah Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D. Seorang pemerhati terorisme di Asia Tenggara yang juga seorang pengajar di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan visiting Research Fellow di Universiti Malaya, Malaysia.

Kamaruzzaman mengungkapkan bahwa Asia Tenggara adalah kawasan yang sangat berpotensi tinggi pada gerakan ekstremis. Hal ini karena Asia Tenggara berada di tengah-tengah dua kekuatan besar dunia yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok yang masing-masing saling berebut pengaruh. Dalam berebut pengaruh di Asia Tenggara, Amerika Serikat dan Tiongkok memiliki strategi yang sangat berbeda. Jika Amerika Serikat memulai dengan mengedepankan power, lalu diikuti dengan upaya mengontrol, menanamkan pengaruh, mengintervensi, dan diakhiri dengan menyeimbangkan sesuai dengan keinginan mereka. Sebaliknya Tiongkok mengedepankan provokasi, diikuti dengan diplomasi, penyeimbangan, menanamkan pengaruh, dan diakhiri dengan tertancapnya hegemoni power mereka. Perbedaan strategi tersebut membuat konstelasi konflik di Asia tenggara menjadi sangat rentan bergejolak.

Dalam situasi tersebut, muncul kelompok-kelompok ektremis bak cendawan di musim hujan yang melabeli dirinya sebagai kelompok yang anti Amerika Serikat ataupun Tiongkok. Basis dari kelompok ekstremis tersebut terutama adalah Malaysia, Indonesia, dan Filipina.Namun penyebaran kelompok tersebut tidak hanya terbatas di ketiga negara tersebut. Kita dapat melihat bagaimana Thailand pun hingga kini masih belum aman dari serangan ekstremis. Apalagi kondisi Thailand kini pada masa transisi yang labil akibat mangkatnya Raja Bhumibol Adulyadej yang dikenal arif dan digantikan oleh puteranya Maha Vajiralongkorn yang memiliki citra kurang baik di mata rakyat. Itulah mengapa Asia Tenggara dapat digambarkan sebagai ecology of extremism.

Dari perspektif kelompok ekstremis, gerakan yang meraka lakukan adalah bentuk dari kebangkitan Islam atau Islamic Revival. Secara lebih luas Kamaruzzaman mengidentifikasikan bahwa dalam mengkaji isu revival di dunia ini dapat dikelompokkan menjadi 4 jalur besar, yaitu jalur bawah tanah seperti Ikhwanul Muslimin, jalur politik seperti Jamaah Islamiyah, jalur berbasis kampung seperti Darul Arqam, dan jalur berbasis masjid seperti Jamaah Tabligh. Lebih lanjut dia juga menjelaskan bahwa perkembangan revival terbagi menjadi 4 fase yaitu fase tradisonal (religion as guidance), fase modern   (religion as prohibited, post-modern (religion as attracted), dan planetary civilization (religion is fragmented into a new spirit). Isu revival ini sebetulnya kontradiktif bila melihat motivasi para ekstremis, karena sebetulnya yang mereka kejar adalah uang, seks, maskulinitas, petualangan, kesendirian, kebutuhan untuk berkelompok, serta keinginan memiliki identitas. Sedangkan agama dan ideologi berada pada urutan terakhir dari prioritas.

Di akhir pemaparannya, Kamaruzzaman menjelaskan bahwa semakin maraknya kelompok-kelompok ekstremis di Asia Tenggara juga tidak dapat terlepas dengan perihal munculnya konsep Islam Nusantara yang menjembatani Islam dengan kearifan lokal nusantara. Bagi kelompok mereka, tidak ada toleransi ataupun kompromi terhadap budaya lokal. Ketidakmampuan kelompok ekstrem dalam memilah antara budaya Arab dengan ajaran Islam juga semakin memperburuk situasi tersebut. Dari pemaparan tesebut terlihat bahwa munculnya ekstremis di Asia Tenggara disebabkan oleh faktor-faktor yang sangat kompleks, mulai dari pengaruh kekuatan global sampai dengan isu-isu bermuatan lokalitas. (Bayu Mitra A. Kusuma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *