Pemilu Malaysia 2018: Catatan Seorang Warga Negara

Oleh: Yi Xue Fang*

Sebelumnya Malaysia masih dikenal karena pemerintahan “kleptokrasinya”. Namun saat ini, Malaysia mulai diakui sebagai sebuah negara dengn era baru demokrasi yang ditandai pada tanggal pada 9 Mei 2018 lalu. Hal ini menjadi pembicaraan dan pemberitaan bukan hanya di Malaysia, tapi juga seluruh dunia. Sebagai seorang anak muda dan pemilih pemula, saya benar-benar bersemangat dan penuh harapan pada saat menyaksikan hasil Pemilihan Umum ke-14 ini. 509 telah menciptakan sejarah baru di Malaysia dimana partai yang telah berkuasa dalam kurun waktu yang panjangpanjang, Front Nasional (BN) telah menuai kekalahan dari koalisi Pakatan Harapan setelah enam dekade berkuasa. Selain itu, mantan Perdana Menteri ke-4 Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad telah kembali ke arena politik dan bersumpah untuk menjadi Perdana Menteri tertua di dunia sebagai Perdana Menteri yang ke-7.

Sebagai bagian dari aktor demokrasi, saya telah mengamati kampanye oleh kedua belah pihak selama proses pemilihan umum. BN menekankan kampanye mereka dengan lebih lebih mempromosikan klaim kesuksesan pemerintah saat itu termasuk bantuan ekonomi sosial yang diberikan kepada masyarakat akar rumput dan juga memanfaatkan reputasi investor asing dalam membangun kepercayaan masyarakat. Di sisi lain, Pakatan Harapan mengangkat isu-isu nasional termasuk korupsi, taktik kotor yang dimainkan oleh BN untuk mencuri kemenangan dalam pemilu, dan biaya hidup yang tinggi yang mempengaruhi kesejahteraan rakyat terutama kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah. Selain itu, Pakatan Harapan menonjolkan partai utama dan figur publik yang merupakan presiden dari empat partai dari Parti Keadilan Rakyat, Bersatu, Partai Aksi Demokratis, dan Parti Amanah Negara.

Saya menyadari bahwa penampilan Mahathir di seluruh kampanye benar-benar berdampak dan menakjubkan bagi para pemilik hak suara. Bagaimana mungkin seorang pria berusia 92 tahun mampu bertahan dengan jadwal yang intens dari kampanye? Misalnya, kemarin dia berbicara di sebuah negara bagian, malam ini dia akan memberikan pidatonya di negara bagian lainnya. Saya memperkirakan masyarakat kagum sekaligus bingung dengan tekad dan usaha kerasnya. Sebaliknya, Presiden BN, Najib Razak hanya membuat penampilan terakhirnya secara on air pada malam sebelum Hari Pemilihan. Pada malam yang bersamaan, Mahathir juga memberikan pidato terakhirnya. Kedua sisi kelompok massa pada malam itu sangat jauh terlihat berbeda.

Kemenangan Pakatan Harapan bukanlah dipandang sebagai tsunami gerakan masyarakat keturunan etnis Cina, tetapi itu adalah tsunami gerakan rakyat secara keseluruhan. Etnis Melayu pendukung petahana sedikit banyak nampak terpukul atas perubahan yang terjadi terhadap masa depan negara Malaysia. Kemenangan Pakatan Harapan merupakan senjakala rezim BN yang banyak dibicarakan di media sosial, dimana media sosial saat ini adalah trend dalam merayakan sebuah kemenangan. Itu seperti perayaan hari kemerdekaan lain untuk rakyat Malaysia.

Sekarang, rencana pasca pemilu mulai bergulir. Setiap orang memperhatikan setiap langkah dan rencana yang akan dilakukan oleh pemerintah saat ini terutama janji yang dibuat selama kampanye. Fenomena pasca pemilihan memang sangat berdinamika dan memiliki daya eksplosif seiring warga Malaysia terus disajikan berbagai berita terkini oleh media nasional. Pada saat yang sama tepat setelah kemenangan, seakan menjadi titik balik bagi media untuk mendapatkan kebebasan dan kepercayaan publik dalam pemberitaan berita tanpa harus disensor atau dipotong oleh otoritas apapun.

Salah satu pelajaran paling penting yang dipelajari oleh seluruh warga negara Malaysia, kami bukan lagi Cina Malaysia atau bahasa lain yang sejenis, tetapi kami lebih baik bersama sebagai “orang Malaysia” yang setara dan saling menghormati. Mari berpegang teguh pada cita-cita bangsa yang lebih baik, masa depan semua pihak yang lebih baik, dan juga kondisi negara yang lebih baik untuk kehidupan seluruh warga negara Malaysia. Perubahan tidak akan pernah tercapai jika kita tetap tidak memahami urgensi dari sebuah perubahan, menyadari kemana kita harus melangkah bersama, dan saling memenuhi hak dan kewajiban secara berimbang!

*Yi Xue Fang adalah peneliti politik pemerintahan di Universiti Putra Malaysia dan mahasiswa doktoral di Universiti Kebangsaan Malaysia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *