Tentang ISAIs

Tentang ISAIs

Islam Asia Tenggara merupakan entitas terbesar dibanding dengan kawasan lain. Dan sebagian besar jumlah tersebut berada di Indonesia. Selain itu latar belakang historis dan ekspresi budaya Islam Asia Tenggara sangatlah beragam sebagaimana ditunjukkan oleh kondisi alam dan masyarakatnya yang khas. Di sepuluh negara anggota ASEAN eksistensi Islam, baik sebagai mayoritas maupun minoritas, tidak dapat dinafikan dari pergumulan sosial, ekonomi, budaya agama dan politik.

Namun demikian, kawasan Asia Tenggara tidak hanya tercermin dari pluralitas eksistensi negara apalagi dari segi komunitas, budaya, agama, tradisi dan sejarah. Akan tetapi, sejak semula komunitas masyarakat di negara-negara ini saling beririsan, baik dari segi kepemelukan agama penduduknya maupun dari latar historis sosial dan budayanya. Batas geografis negara-bangsa di Asia Tenggara tidak menghalangi pluralitas dan keterkaitan budaya satu dengan yang lain dengan melintasi batas-batas geografis negara-bangsa tersebut, tidak terkecuali Islam.

Pluralitas budaya dan ekspresi Islam Asia Tenggara tidak hanya tampak dalam wajahnya yang modern pasca kemerdekaan negara-negara tersebut, melainkan juga memiliki akar historis dan budaya yang menghunjam sejak pra kolonial. Kekhasan Islam Asia Tenggara terutama berakar dari budaya lokal justru bermula dari masyarakat pra kolonial tersebut. Di samping dinamika budaya dan ekspresi spiritual masyarakat Asia Tenggara yang eksis sejak masa itu, Islam datang ke Asia Tenggara melalui pergulatan kebudayaan marcusuar dunia ketika itu, yaitu Persia, India dan Cina. Kemampuan berdagang, ketangguhan maritim, dan kedalaman spiritual sufistik yang dikombinasikan dengan budaya telah mampu membumikan Islam di kawasan Asia Tenggara ini.

Akan tetapi, kolonialisme telah mengubah geopolitik dunia yang mempengaruhi hampir seluruh dimensi kebudayaan masyarakat. Penundukan Barat atas berbagai pusat Islam di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, dan Turki di Eropa serta Asia Selatan, seperti Afghanistan dan Pakistan memberikan pengaruh besar terhadap kawasan Asia Tenggara. Penundukan itu dalam waktu yang sama telah memberdayakan Islam kawasan tersebut dalam hal ekspansi ekonomi, kebudayaan dan dakwah. Dalam konteks Asia Tenggara, perubahan geopolitik kolonialisme tersebut berpengaruh bagi menipisnya sumber-sumber kebudayaan lama, hubungan dan dialog di antara masyarakat Asia Tenggara sendiri, seperti antara mainland di kawasan Indochina dan kepulauan Asia Tenggara, di antaranya, meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Mindanao, dan Patani, serta relasi pusat-pusat kebudayaan dunia Islam Asia Tenggara pra kolonial tersebut.

Kombinasi antara modernisasi Barat yang sentralistik dan budaya Arab yang puritan telah menggeser dialog silang budaya yang telah terbangun lama di kawasan mainland dan kawasan kepulauan. Akibatnya, Islam Asia Tenggara cenderung menjadi kaku dan puritanistik mengikuti karakter Barat-Arab. Konflik-konflik laten, baik di internal kelompok Islam maupun antar komunitas Islam di negara-bangsa setempat serta pembelahan antara mainland dan kepulauan lahir, tidak lain disebabkan oleh pengaruh kolonial. Akibatnya, Islam Asia Tenggara kehilangan karakter akulturasi masyarakatnya yang tidak lagi mampu mendorong kebudayaan lokal menjadi kekuatan mediasi atas pengaruh luar, bahkan Indonesia yang dikenal memiliki penduduk muslim terbesar di Asia Tenggara terkesan pasif atas pengaruh dari pihak luar.

 

Visi

Meskipun berbagai bentuk pendidikan telah lahir, perguruan tinggi atau universitas memiliki peran khas dalam memperkuat kebudayaan dan membangun visi masa depan kemanusiaan. Peran yang dapat dilakukan perguruan tinggi adalah dengan melakukan kajian, riset, dan mempublikasikan hasil-hasil risetnya agar bisa menjadi pedoman bagi perjalanan sejarah manusia di masa depan. Berangkat dari kerangka demikian, ISAIs hendak membangun visi sbb.: “Sebagai Pusat Data dan Analisa Islam Asia Tenggara”

Misi

  1. Melakukan kajian dan penelitian tentang Islam di kawasan Asia Tenggara.
  2. Melakukan analisa perbandingan terhadap berbagai data yang telah ada tentang Islam Asia Tenggara.
  3. Membentuk dan melahirkan sumber daya manusia peneliti dan pengkaji Islam Asia Tenggara.
  4. Membangun dan mengembangkan jaringan serta kerjasama dengan pusat-pusat kajian lain yang memiliki kesamaan topik, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tujuan

  1. Melakukan kajian dan penelitian tentang Islam (juga relasinya dengan agama-agama lain) dari berbagai dimensi di kawasan Asia Tenggara secara sistematis guna memberikan sumbangan bagi perubahan di era globalisasi.
  2. Membentuk sumber daya manusia peneliti dan pengkaji masalah Islam Asia Tengara.
  3. Memberdayakan kebudayaan dan tradisi serta dinamika masyarakat Asia Tenggara dalam menghadapi perubahan-perubahan akibat globalisasi.
  4. Mengembangkan dialog, negosiasi dan akulturasi budaya di dalam kawasan Asia Tenggara di mana Islam menjadi salah satu komponen penting di dalamnya.
  5. Mendorong dialog dan kerjasama di antara komunitas agama dan budaya yang beragam dengan tradisi Islam di dalam kawasan Asia Tenggara sendiri dan dengan kawasan lain.

 

Sejarah Pendirian

Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) lahir berkat inisiasi Ahmad Suaedy dan Mochamad Sodik, di mana keduanya merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga. Keduanya  berpikir pentingnya mendirikan pusat kajian Asia Tenggara di Indonesia yang fokus mengangkat isu dinamika Islam di Asia Tenggara. Beberapa pusat kajian Asia Tenggara yang berada di bawah perguruan tinggi di Indonesia saat ini belum ada yang mengangkat isu keislaman secara khusus. Karena itu, pada awal tahun 2014, keduanya mendirikan Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) di bawah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam misi pendiriannya, ISAIs ingin menjadi pusat kajian dan penelitian Islam (juga relasinya dengan agama-agama lain) dari berbagai dimensi di kawasan Asia Tenggara; Mengembangkan dialog, negosiasi, dan akulturasi budaya di dalam kawasan Asia Tenggara di mana Islam menjadi salah satu komponen penting di dalamnya; dan mendorong dialog dan kerjasama di antara komunitas agama dan budaya yang beragam dengan tradisi Islam di dalam kawasan Asia Tenggara sendiri dan dengan kawasan lain.

 

Program

  1. Monthly Discussion yang mengangkat berbagai peristiwa aktual di bidang sosial, budaya, agama, politik dan ekonomi dalam masyarakat Islam Asia Tenggara.
  2. Public Lecture oleh narasumber dari dalam maupun luar negeri yang memiliki keahlian di bidang kajian Islam Asia Tenggara.
  3. Penelitian terkait dengan berbagai fenomena Islam Asia Tenggara.
  4. Analisa perbandingan atas berbagai data dan penelitian yang telah tersedia tentang berbagai dimensi Islam Asia Tenggara.
  5. Workshop, training dan short course tentang berbagai topik di Asia Tenggara, termasuk tentang menulis dan meneliti Islam Asia Tenggara.
  6. Menerbitkan buku, jurnal, dan hasil penelitian yang dianggap penting dan layak sesuai dengan core values pusat studi.
  7. Membangun dan mengembangkan jejaring dengan lembaga think thank, riset, CSO, dan pusat studi yang relevan dengan fokus kajian lembaga, baik di dalam maupun di luar negeri.

Lembaga Partner

Selain berkolaborasi dengan pusat studi-pusat studi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga, ISAIs juga telah dan akan menggandeng serta bekerja sama dengan lembaga riset perguruan tinggi lainnya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, kerjasama juga dilakukan dengan lembaga-lembaga negara dan CSO.