Short Course on Understanding Islam and It’s Dynamics in Southeast Asia

Perdebatan mengenai Islam Asia Tenggara masih terus mengemuka hingga saat ini, perdebatan ini dipicu oleh luasnya cakupan dan kajian Islam Asia Tenggara yang melingkupi berbagai topik bahasan. Selama ini topik yang selalu mengemuka ketika melihat Islam Asia Tenggara dari sudut pandang ekonomi politik, sedangkan kajian sosial, budaya dan agama tampak langka. Di sisi yang lain ditemukan kesulitan dalam melakukan periodisasi dinamika Islam Asia Tenggara berdasarkan standar tertentu. Yang terjadi adalah kecenderungan periodisasi itu menggunakan kacamata politik seperti islam pra-kolonial, masa kolonial, masa negara bangsa, dan pasca kemerdekaan. Dengan demikian dinamika kekuasaan selalu menjadi tumpuan untuk melihat preode islam di area ini. Sedikit sekali ditemukan -misalnya- melihat islam di Asia Tenggara berdasarkan pada perubahan mental masyarakat.

Sementara itu, dinamika islam Asia Tenggara terus berlangsung dan mengambil bentuknya yang sangat dinamis. Hal ini misalnya dari proses pembentukan negara bangsa yang masih bermasalah karena dibangun berdasarkan pada pembagian penjajahan, misalnya antara Malaysia, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan masih terkait satu sama lain berdasarkan rumpun dan kultur melayu, namun ketika itu dipotong oleh Portugis, Perancis dan Inggris seakan menjadi bagian yang terpisah dan relasinya belakangan yang cenderung bereskalasi. Akibatnya hingga saat ini mereka berhadap-hadapan dengan pemerintah setempat dan belum menemukan formulasi yang harmonis dalam proses peacebulding-nya. Belum lagi dari sudut pandang budaya dan bukti arkeologis yang memunah akibat dari konflik yang terus berkelanjutan. Di sisi yang lain, Islam di Asia Tenggara mengambil corak dan bentuknya sendiri-sendiri berdasarkan pada dinamika yang terus berkembang di setiap negara.

Oleh karena itu, kajian Islam di Asia Tenggara menjadi makin penting, khususnya Islam di Indonesia yang lead di kawasan ini, bahkan di dunia. Namun demikian, studi tentang Islam di kawasan ini masih sangat langka dilakukan di universitasuniversitas di Indonesia. Yang lebih ironis adalah bahwa yang berminat mengkaji secara serius mengenai Islam Asia Tenggara justru adalah orang atau lembaga-lembaga yang ada di luar Asia Tenggara. Selain minat mereka besar, sudah barang tentu kajian ini lebih banyak berkembang di luar dengan sudut pandang yang mereka miliki. Akhirnya islam Asia Tenggara lebih banyak di definisikan dari luar ketimbang islam Asia Tenggara sendiri yang mendefinsikan dirinya sendiri.

Karena itu mengenal dan mengkaji islam Asia Tenggara, khususnya secara akamedis, harus segera dimulai dari dalam. Sudah waktunya komunitas akademik di Asia Tenggara tidak acuh lagi terhadap kekayaan dan keragaman agama dan
budayanya sendiri. Dengan latar belakang tersebut Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs)bekerjasama dengan Moslem Global Affairs (MOGA) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga menyelenggarkan Short Course “Understanding Islam and It’s Dynamics in Southeast Asia”. Kegiatan ini berlangsung mulai 29 Maret hingga 12 April 2018 dengan melibatkan 30 peserta dari kalangan dosen, peneliti dan mahasiswa di lingkungan UIN Sunan Kalijaga dan kampus lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *