Unik dan Berbeda: Observasi Seorang Amerika terhadap Idul Fitri di Indonesia

Oleh Jennifer H. Lundt*

Sedikit tentang saya untuk mengawali bingkai pengamatan pada kajian ini, nama saya Jenny dan saya adalah seorang mahasiswa yang mengambil jurusan Perdamaian dan Konflik dengan spesialisasi Kajian Islam di Asia dan Timur Tengah. Saya telah menghabiskan banyak waktu di Timur Tengah dengan magang di Maroko dan Yordania dengan tambahan perjalanan ke Mesir, Qatar, Kuwait, dan Lebanon. Saya juga menghabiskan waktu di Asia dengan magang di Thailand selama 5 bulan dan satu semester di Nepal.

Selanjutnya, Indonesia telah menjadi negara yang telah ada di daftar pikiran saya selama bertahun-tahun. Keinginan saya ke Indonesia melampaui sekedar alasan karena keindahan alam yang ditemukan di sini. Hal tersebut sangat menarik bagi saya karena merupakan kombinasi dari dua kepentingan saya. Yaitu keindahan alam sekaligus kepentingan akademis untuk mengunjungi negara Asia dengan populasi Muslim terbesar di dunia? Sempurna.

Harus diakui, saya hanya memesan tiket saya berdasarkan harga termurah, sehingga tidak akan terasa lebih sempurna bahwa tanggal 15 Juni jatuh pada hari terakhir Ramadhan atau datangnya Idul Fitri. Dua musim panas yang lalu saya masih tinggal di Amman Yordania selama 2 bulan yang juga di antaranya masuk bulan suci Ramadhan. Jadi saya pikir saya tahu apa yang diharapkan saat mengalami Idul Fitri di negara lain. Namun, saya benar-benar tidak siap untuk perbedaan yang akan saya hadapi di antara dua tempat itu.

Interaksi pertama saya dalam perjalanan adalah dalam penerbangan saya dari Singapura ke Jakarta dimana pada saat makan malam di pesawat saya mendapatkan bendera kecil yang mencuat dari menu dan tertulis “Idul Fitri”. Saya melihat perbedaan bahasa antara bahasa Indonesia dan Arab. Di Yordania dan negara-negara berbahasa Arab lainnya, hari itu disebut “Eid al-Fitr “. Di sini di Indonesia, mereka menyebutnya Idul Fitri. Bagi saya, ini memperlihatkan perbedaan besar di antara kedua budaya. Jelas bahwa Indonesia memiliki keunikan pada Islam mereka yang belum pernah saya lihat atau alami sebelumnya.

Ketika saya mengambil tas dan melewati proses imigrasi, saya masih terkejut dengan jumlah taksi yang mengerumuni saya setelah kedatangan. Hal ini tidak lantas membuat saya memberikan penilaian mereka, tetapi itu memberi saya momen untuk memikirkan pagi di hari Natal dalam budaya saya sendiri dan bagaimana pada hari-hari suci dimana banyak orang masih harus atau memilih untuk bekerja. Kita semua harus membuat hidup kita entah bagaimana dalam menyikapi hal tersebut, saya kira memang semua bisa saja berbeda.

Ketika saya check in ke hostel untuk bermalam di Stasiun Gambir, pria di resepsionis memperingatkan saya bahwa sebagian besar kota akan kosong dan dengan demikian saya akan kesulitan untuk melihat banyak tempat wisata di Jakarta. Dia memberi tahu saya tentang “mudik” atau “pulang kampung” di mana orang-orang di daerah perkotaan kembali ke kampung halaman mereka untuk menghabiskan waktu bersama keluarga mereka dan bermaafan atau hanya merayakan saja. Apa yang dia katakan itu benar. Berkendara di malam pertama itu, memang benar bahwa sebagian besar kota itu seperti menghilang. Lampu-lampu pada bangunan besar telah lama menyala dan etalase toko tertutup sepenuhnya. Namun, ada spanduk besar yang mempromosikan Idul Fitri atau Lebaran di hampir setiap jalan.

Demikian pula saat mengunjungi Grand Indonesia Mall, saya perhatikan bahwa sebagian besar etalase memiliki iklan yang mempromosikan penjualan khusus dan penawaran untuk Lebaran. Mereka bahkan memiliki dekorasi toko dan bahkan musik yang mempromosikan liburan. Mengingatkan saya lagi pada Hari Natal, di mana hari libur itu dikomersialisasikan untuk mendapatkan keuntungan. Selain itu, saya belajar bahwa periode waktu ini dikenal untuk berbelanja, kecuali untuk diri sendiri daripada orang lain seperti di rumah. Jutaan dolar dimasukkan ke dalam industri ritel selama periode ini.

Beberapa hari saya berada di Jakarta yang menjadi kota paling kosong sepanjang tahun. Ini menurut saya menarik, karena masih ada lalu lintas yang luar biasa menyakitkan. Saya hanya bisa membayangkan seperti apa jalan-jalan kota selama sisa tahun ini. Sebaliknya, saya menemukan berbeda di Bali. Ketika saya melakukan perjalanan ke Bali tepat setelah Jakarta, saya terkesan dengan sejumlah komentar orang-orang lokal tentang masuknya orang-orang untuk musim liburan ini. Banyak orang mengatakan kepada saya bahwa jalan-jalan di daerah-daerah populer tertentu benar-benar tidak dapat dilewati

Betapa sulitnya mengoordinasikan semua gerakan ini. Bahkan memindahkan mereka dari pusat kota ke luar jelas merupakan tantangan. Ini adalah salah satu migrasi manusia terbesar di seluruh dunia, dengan puluhan juta orang di jalan. Banyak orang yang saya ajak bicara menyatakan betapa sulitnya melakukan perjalanan karena kurangnya fasilitas termasuk kamar mandi di sepanjang jalan dan kenaikan harga selama liburan. Beberapa yang lain mengatakan kepada saya bahwa lalu lintas selama periode ini adalah mimpi buruk yang sebenarnya.

Sangat menarik di Bali untuk berbicara dengan umat Hindu tentang pendapat mereka tentang liburan. Semua orang yang saya ajak bicara mendukungnya, karena itu berarti lebih banyak waktu libur kerja bagi mereka. Namun, beberapa penganut Kristen yang tinggal di Bali menyatakan frustrasi bahwa mereka tidak dapat merayakan liburan mereka seperti Paskah atau Natal bersama keluarga mereka dengan cara yang sama. Adapun kesamaan terbesar antara Yordania dan Indonesia, saya menemukan fokus pada keluarga dan makanan yang menjadi sorotan utama. Di Yordania, saya ingat keluarga angkat saya dan saya menjejali diri dengan semua makanan yang menjadi ciri khas puasa. Di Indonesia, saya belajar bahwa terdapat praktik yang persis sama.

Yang jelas sejauh ini dari pengamatan saya adalah: ada budaya nasional yang unik dari identitas warga Indonesia, meskipun terdapat berbagai budaya yang berbeda dari setiap daerah atau pulau, namun mereka bersatu dalam identitas yang lebih besar. Saya baru saja tiba di Indonesia, tetapi pikiran saya mengenai Idul Fitri akan tetap berada di hati dan pikiran saya untuk waktu yang lama, karena ini adalah dasar pertama bagi budaya yang kuat di negara yang indah ini. Idul Fitri memberikan konteks yang kuat untuk pemahaman saya tentang masyarakat Indonesia sebagai budaya yang indah dan penuh perhatian. Saya hanya bisa membayangkan pengetahuan lain apa yang akan datang seiring dengan waktu saya di sini.

 

*Mahasiswa Departemen Studi Konflik dan Perdamaian, Colgate University, Hamilton, USA dan Mahasiswa magang di Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *