Unit Khusus Muslim Militer Filipina: Pendekatan Agama dan Budaya Hadapi Ekstremis

oleh Bayu Mitra A. Kusuma*

Di tengah hiruk pikuk perayaan setengah abad Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) 8 Agustus 2017 lalu, isu ekstremisme masih terus membayangi kawasan ini. Terlebih setelah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah semakin terjepit dan mulai membangun eksistensi baru mereka di Filipina selatan melalui kelompok Maute. Sepak terjang kelompok Maute memaksa negara-negara di sekitar Filipina lebih membuka mata dan telinga intelijen lebar-lebar untuk mengantisipasi potensi infiltrasi sedini mungkin. Munculnya kelompok Maute di Kota Marawi semakin memperburuk kondisi keamanan Filipina mengingat kasus-kasus pembajakan Abu Sayyaf di perairan perbatasan juga belum terselesaikan.

Besarnya potensi ancaman ekstremisme di Filipina terhadap negara-negara Asia Tenggara lainnya membuat isu ini bertransformasi menjadi isu regional. Namun sayangnya kekuatan militer Filipina tidak cukup mumpuni untuk menghadapi situasi tersebut.  Berdasarkan data dari Global Fire Power – sebuah situs militer terpercaya – di 2017 ini ranking militer Filipina cukup buruk bila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Bahkan dari 133 negara di dunia yang diranking, Filipina hanya menempati posisi 50. Oleh karena itu Pemerintah Filipina perlu menggunakan pendekatan lain disamping pendekatan militer untuk menghadapi masalah ini, misalnya seperti pendekatan agama dan budaya.

Pada April 2017, Militer Filipina mengumumkan kebijakan untuk membentuk unit khusus yang beranggotakan tentara Muslim dalam tubuh militer mereka. Dengan adanya sistem perekrutan baru ini maka diharapkan Armed Force of the Philippines (AFP) dapat membentuk batalion yang dalam jangka panjang akan menjadi sebuah brigade atau divisi yang terdiri dari tentara Muslim. Lalu bagaimanakah prospek dari eksistensi unit khusus Muslim dalam tubuh militer Filipina tersebut? Di satu sisi, munculnya unit khusus Muslim ini membawa dampak positif, meliputi: pertama, pendekatan agama dan budaya akan membuka ruang dialog yang lebih besar dibandingkan dengan pendekatan militer konvensional. Sebagai sesama Muslim, tentara tersebut akan lebih menyadari hal-hal sensitif dalam agama dan budaya mereka. Kedua, mempermudah adaptasi dan meraih dukungan masyarakat lokal. Dengan kebijakan baru ini, lima persen kuota dari seluruh pendaftaran di Militer Filipina akan dialokasikan bagi pemohon Muslim. Melalui unit khusus ini maka tentara Filipina diharapkan dapat beroperasi di daerah mayoritas Muslim tanpa dipandang curiga oleh penduduk lokal. Memang selama ini sebagian besar Muslim di Filipina selatan melihat pengerahan militer di dalam komunitas mereka sebagai pasukan invasi. Ketiga, mempermudah jaringan koordinasi dan kerjasama dengan militer Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam sebagai negara tetangga dengan mayoritas penduduk Muslim. Sebagaimana juga telah banyak dibahas di atas bahwa mereka yang berafiliasi dengan ISIS sering melakukan aksi pembajakan terhadap kapal-kapal yang melintas di perairan perbatasan sehingga masalah ini menjadi isu regional. Oleh karena itu koordinasi dengan militer negara-negara tetangga seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam mutlak diperlukan.

Namun di sisi lain, munculnya unit khusus Muslim di tubuh militer Filipina ini juga dapat membawa dampak negatif, seperti: pertama, potensi munculnya faksi-faksi di dalam militer atau gap antara unit Muslim dengan unit lainnya. Sudah banyak kasus di berbagai negara yang menunjukkan pecahnya tubuh militer menjadi faksi-faksi yang bersaing dan bermusuhan. Apabila tidak  ditanamkan jiwa nasionalisme yang tepat, maka kemunculan unit khusus Muslim justru dapat menjadi masalah baru bagi Filipina. Bukannya akan mempermudah proses mewujudkan perdamaian, namun bisa menjadi “bahan bakar” baru dalam menyulut api konflik yang sudah lebih dulu eksis. Kedua, memunculkan stigma bahwa Muslim adalah teroris dan harus dilawan dengan Muslim garis keras pula. Islam selama ini memang kerap dituding sebagai agama atau keyakinan yang sarat akan ideologi kekerasan. Kemunculan unit khusus Muslim di tubuh militer Filipina apabila tidak dikelola dengan baik justru akan memperkuat stigma tersebut. Bahwa seolah-olah untuk melawan Muslim yang radikal maka dibutuhkan Muslim lain yang tak kalah radikal dengan berbalut baju militer. Padahal sebenarnya inti dari ajaran Islam itu sendiri adalah kedamaian.

Masalah ekstremisme di Filipina memang cukup pelik, namun selalu ada hikmah di balik masalah. Pada kasus Marawi, Muslim lokal telah membuktikan bahwa tudingan Islam sebagai agama teror adalah stigma yang tidak benar. Humanitarian Emergency Assistance and Response Team (HEART) dari otonomi daerah khusus Muslim di Mindanao melaporkan bahwa penduduk yang mayoritas beragama Islam bahu-membahu menolong, menyembunyikan, dan mengevakuasi tetangganya yang beragama lain dari ancaman Maute. Oleh karena itu Pemerintah Filipina khususnya di Mindanao berterima kasih atas kebaikan penduduk Muslim Marawi. Terkait dengan pendekatan agama dan budaya melalui kemunculan unit khusus Muslim di dalam militer Filipina, meski terdapat pro dan kontra, namun tentu kita semua berharap bahwa ini akan menjadi solusi yang tepat bagi penyelesaian isu ekstremisme, radikalisme, dan terorisme yang telah sangat lama menghantui kehidupan masyarakat Filipina pada khususnya dan berdampak pada Asia tenggara pada umumnya.

* Peneliti di Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) dan Dosen Manajemen Konflik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *